Hak Asasi Manusia Dalam Timbangan Syari’at Islam (II) dan Penyimpangannya

Islam Menjunjung Tinggi Hak Manusia

Salah satu bagian ajaran di antara ajaran-ajaran Islam adalah sikap untuk menjunjung tinggi hak sesama manusia. Salah satu buktinya adalah firman Allah dalam Al-Qur’an :

Oleh karena (kisah pembunuhan anak Nabi Adam) itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.(Al-Maidah :32)

Dari satu ayat ini, kita dapat mengambil faedah-faedah dari ajaran Islam, yakni :

  • Kata نفسا dari potongan ayat من قتل نفسا dalam kaidah bahasa arab adalah kalimat nakirah (bebas, tidak tertentu) dalam susunan kalimat syarat, yang bermakna umum, sehingga kata نفسا bermakna : “orang dari golongan manapun”. Dengan demikian, ini merupakan keadilan dalam hukum Islam, tidak membedakan ras, bangsa, status sosial, dan selainnya. Siapa saja yang membunuh manusia, ia akan ditindak tegas.
  • Orang yang akan membunuh tanpa dasar yang benar seolah-olah ia membunuh seluruh manusia. Beberapa ahli tafsir menjelaskan kalimat ini bahwa ia mendapat dosa seperti dosa orang yang membunuh semua manusia. Ini merupakan bukti bahwa Islam sangat menjunjung tinggi hak hidup manusia, sesuai pada kandungan pasal 3 deklarasi PBB tentang HAM.
  • Perbuatan membunuh secara umum terlarang dalam Islam, namun terdapat beberapa keadaan seseorang boleh dibunuh. Dan seseorang yang membunuh harus menjaga niatnya untuk tidak membunuh berdasarkan hawa nafsu, agar pembunuhannya tidak termasuk golongan yang disebutkan dalam ayat ini. Seperti pada cerita sahabat rasulullah yang tidak jadi membunuh musuhnya karena musuhnya telah membuat marah dia dengan meludahinya, sehingga ia takut untuk membunuh musuh tersebut dengan didasari rasa marah, bukan karena Allah.

Penyimpangan HAM dilihat dari kacamata Islam

Dari pembahasan sebelumnya, terlihat bahwa sebagian konsep hak asasi manusia yang berasal dari filsafat barat bersesuaian dengan ajaran Islam, khususnya pada masalah hak hidup manusia di dunia. Namun, apakah pemikiran HAM versi barat ini, yang juga digunakan di Indonesia, seluruhnya bersesuaian dengan ajaran Islam, yang dianut oleh mayoritas warga negara Indonesia? Ketika konsep HAM ini diteliti lebih jauh, didapati banyak sekali penyimpangan-penyimpangan dari praktik penerapan konsep HAM dari barat yang sekarang diterima oleh dunia internasional ini dengan ajaran Islam. Sebelum kita meneliti lebih jauh saja, dapat diprediksi bahwa konsep-konsep yang dibawa dari filsafat-filsafat barat ini akan bertentangan dengan ajaran Islam, karena perkembangan prinsip hak asasi manusia dilatarbelakangi oleh liberalisme yang lahir dari rasa ingin memerdekakan diri dari ketidakadilan feodalisme pada masa abad ke-17 dan 18. Paham liberalisme secara umum merupakan kebebasan yang berlebihan jika dipandang dari kacamata Islam, karena dalam paham ini lebih bersifat antrhoposentris, ukuran kebenaran suatu perbuatan hanyalah dari apakah perbuatan tersebut merugikan orang lain apakah tidak. Padahal, bisa saja walaupun perbuatan tersebut tidaklah merugikan seorang pun namun perbuatan tersebut terlarang menurut Islam, karena perbuatan tersebut telah melanggar hak-hak Allah, sehingga dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan Sunnah melarangnya. Di sisi lain, HAM juga merupakan produk pemikiran manusia, yang notabene memiliki kesalahan dan akal yang terbatas akan sangat memungkinkan paham menyelisihi paham yang dibuat oleh Allah yang Maha Sempurna. Terlebih lagi, manusia yang menciptakan konsep ini berasal dari kalangan orang barat, yang sebagian besarnya beragama yahudi dan nasrani. Secara umum, mereka adalah musuh-musuh terbesar kaum muslimin yang selalu berusaha membuat tipu muslihat agar kaum muslimin keluar dari agamanya, atau setidaknya membuat kaum muslimin merasa gerah atau phobi terhadap ajaran agamanya sendiri, sebagaimana firman Allah :

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu (Al-Baqarah:120)

Untuk membuktikan kebenaran ini, kita lihat beberapa pemikiran HAM dengan mengambil sebuah pasal dalam deklarasi HAM.

Disebutkan dalam pasal 18 deklarasi universal HAM, ”Setiap orang mempunyai hak atas kebebasan berpikir, memiliki keyakinan dan beragama; hak ini meliputi juga hak atas kebebasan berganti agama dan keyakinan, dan hak atas kebebasan baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, di tempat umum atau di dalam kehidupannya sendiri, dalam pengajaran, pengamalan, dengan beribadat serta menjalankan perintah agama dan kepercayaan.

Pemahaman HAM versi barat menyebutkan (dalam pasal ini) disebutkan bahwa seseorang dibebaskan untuk memeluk agama sebebas-bebasnya, termasuk kebebasan berganti agamanya sesuka hatinya. Jika kita lihat hukum-hukum Islam, hal ini sangat melanggar syari’at. Kebebasan beragama bukanlah bagian dari Islam dan Islam tak akan mentoleransi setiap sikap murtad (pindah agama) dari pemeluknya, karena berpindahnya agama seseorang setelah ia memeluk Islam terdapat di dalamnya unsur pembangkangan terhadap syari’at Allah, yang memberi konsekuensi pelakunya tertimpa dosa syirik. Padahal, dosa syirik adalah dosa terbesar di hadapan Allah dalam Islam, melebihi dosa-dosa besar maksiat sekalipun. Allah berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisaa: 4)

Dosa selain syirik seperti zina, minum khamr, mencuri, makan riba, ini semua selain dari syirik, dosa-dosa ini di bawah kehendak Allah, pelakunya adalah pelaku dosa besar dan mereka adalah orang-orang fasik, akan tetapi mereka tidak terjatuh dalam perbuatan syirik hanya saja mereka terjatuh dalam dosa-dosa besar dan hal ini mengurangi keimanan mereka dan mereka dihukumi dengan kefasikan. Seandainya mereka mati dan belum bertaubat maka mereka dibawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak maka Allah akan mengampuni mereka dengan tauhid yang ada pada mereka dan jika berkehendak maka Allah akan mengadzab disebabkan dosa-dosa mereka, kemudian tempat kembali mereka adalah jannah (surga) disebabkan tauhid yang ada pada mereka. Ini adalah tempat kembali para pelaku dosa besar selain syirik.

Maka, jika kita mendengar berita-berita kriminal yg mengenaskan, seperti ada seorang gadis cilik yg berulang kali digauli oleh ayah dan kakeknya, bahkan hingga sekian kali gadis tersebut hamil dan melahirkan, ini adalah dosa maksiat yang sangat buruk yang patut diberi tindakan keras bagi pelakunya. Namun, dosa syirik akibat sikap murtad seseorang, di hadapan Allah dosa syirik ini jauh lebih besar dibanding dosa kriminal tersebut, karena sejelek-jelek dosa maksiat, yang dizalimi dalam perbuatan maksiat adalah hak manusia, sedangkan yang dizalimi dalam syirik itu adalah hak Allah. Jadi, apabila perbuatan kriminal saja patut dihukum keras, tentunya pelaku perbuatan syirik perlu dihukum lebih keras lagi, yakni dengan cara memenggal batang leher pelakunya.

Telah menjadi kesepakatan para ulama bahwa orang yang murtad dari Islam bila tidak mau ruju’ (kembali kepada Islam) maka dihukum mati (oleh pemerintahan Islam, bukan individu), sebagaimana pada hadits Ibnu ’Abbas bahwa rasulullah bersabda:

”Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad), maka bunuhlah dia.” (HR. Al-Bukhari no.3017) .

Juga dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud, rasulullah bersabda :

”Tidak halal darah seorang muslim kecuali (karena) salah satu dari tiga (perkara) : (membunuh) jiwa dengan jiwa, orang yang sudah menikah berzina, dan orang yang meninggalkan agamanya memisahkan diri dari jamaah.” (HR. At-Tirmidzi no.1402)

Selain itu, hukum bagi yang murtad, dia tidak mewarisi harta karena kekafirannya. Telah sepakat ahlul ilmi (para ulama) bahwa orang yang kafir tidak mewarisi dari seorang muslim. Mayoritas para sahabat berpendapat bahwa seorang muslim tidak mewariskan kepada seorang yang kafir.

(Bersambung ke Hak Asasi Manusia dalam Timbangan Syari’at Islam (III) )

Satu Balasan ke Hak Asasi Manusia Dalam Timbangan Syari’at Islam (II) dan Penyimpangannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: