Hak Asasi Manusia Dalam Timbangan Syari’at Islam (III)

Bukankah Rasulullah Pernah Berdamai dengan Orang Kafir?

Di sisi lain, pada hukum Islam (Al-Qur’an dan al-hadits) yang lain juga dijelaskan bahwa rasulullah pernah berdamai dengan orang kafir (non-islam) sehingga tidak mengganggu mereka untuk beribadah, atau ayat tentang larangan mencela sesembahan orang-orang kafir. Dengan demikian, hukum pembunuhan orang kafir yang asalnya halal perlu diperinci berdasarkan situasi dan kondisi tertentu sesuai dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang ada. Hal ini juga sebagai bantahan kepada kelompok teroris yang terlalu ekstrim dengan menganggap bolehnya membunuh orang kafir secara mutlak.

Akan tetapi, ini bukanlah berarti bahwa Islam menganggap semua agama adalah sama dan membolehkan seseorang untuk berpindah-pindah agamanya, walaupun dari kacamata barat kebebasan beragama ini tidak mengapa karena tidak merugikan orang lain. Biasanya orang-orang yang menganggap adanya pembolehan hormat-menghormati urusan beragama secara mutlak, mereka berpendapat dengan berdasarkan hadits-hadits tentang sikap damainya rasulullah atau sahabatnya dengan orang kafir, seperti salah satunya adalah pesan khalifah Abu Bakar ketika mengirim ekspedisi pertama ke negri Syam: “Hendaklah kamu bersikap adil. Jangan patahkan keyakinan yang telah kamu ikrarkan. Jangan memenggal seseorangpun. Jangan bunuh anak-anak, laki-laki dan perempuan. atau membakar pohon-pohon kurma, dan jangan tebang pohon-pohon yang menghasilkan buah-buahan. Jangan bunuh domba-domba, ternak-ternak atau unta-unta, kecuali untuk sekedar dimakan. Mungkin sekali kamu akan bertemu dengan orang-orang yang telah mengundurkan diri ke dalam biara-biara, maka biarkan mereka dan kegiatan mereka dalam keadaan yang damai.”


Sekilas perkataan Abu Bakar ini membenarkan pemikiran mereka yang telah tercampur pemikiran orientalis. Namun, perlu diketahui bahwa rasulullah dan sahabatnya tidak mengganggu orang-orang musyrik di Madinah waktu itu untuk beribadah, atau perintah untuk bersikap adil oleh khalifah Abu Bakar ini bukan karena dasar mereka menganggap bahwa agama mereka juga benar, karena Islam mengajarkan kepada orang yang beriman untuk bersikap loyal terhadap orang beriman dan menanamkan kebencian kepada orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah :

”Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayaMang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya …” (Al-Mujadilah : 22)

Ayat ini diturunkan ketika kaum muslimin di zaman nabi berperang melawan kaum kafir quraisy, agar mereka tidak ragu-ragu untuk memerangi kaum kafir tersebut, walaupun mereka mendapati musuh-musuh mereka masih memiliki hubungan keluarga mereka sendiri, dan bahkan pemimpin musuh-musuh mereka banyak yang berasal paman-paman rasulullah sendiri.

Lalu, mengapa kaum muslimin juga diperintahkan untuk tidak keras terhadap orang kafir? Walaupun pada dasarnya kaum muslimin diperintahkan untuk membenci orang kafir, rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melarang kaum muslimin untuk mengganggu orang-orang non-Islam yang hidup sebagai kafir dzimmi, yakni orang kafir yang termasuk warga negara Islam yang dilindungi selama mereka mentaati peraturan-peraturan negara dan membayar jizyah (semacam upeti atau pajak). Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak mengizinkan kalian untuk masuk ke rumah orang-orang ahli kitab kecuali dengan seijin mereka, tidak boleh memukul mereka dan mengambil buah-buahan mereka selama mereka memberikan kepada kalian kewajiban mereka.” (HR. Abu Dawud).

Demikianlah warga negara non-Islam diberikan hak-haknya dan dijaga hartanya, tidak boleh dirampas hartanya atau dibunuh jiwanya dengan dhalim selama mereka mentaati peraturan-peraturan negara Islam, walaupun kaum muslimin harus meyakini bahwa kedudukan mereka lebih rendah, sebagaimana ucapan Umar bin Khattab radliyallahu `anhu: “Rendahkanlah mereka tapi jangan dhalimi mereka.”


Demikian pula orang-orang non-Muslim yang bukan warga negara tetapi terikat perjanjian damai. Seperti para pendatang dari negara asing yang tidak dalam keadaan berperang (dengan Muslim) atau dalam kata lain terikat perjanjian damai. Maka kaum muslimin tidak boleh mengganggu, apalagi membunuh mereka selama mereka mengikuti peraturan-peraturan negara Islam. Demikian pula duta-duta asing yang tinggal di negara Islam. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam mengancam orang-orang yang mengganggu atau mendhalimi mereka. Mereka ini distilahkan dengan kafir mu’ahhad (yaitu terikat perjanjian):“Ketahuilah barang siapa mendhalimi seorang mu’ahad; atau mengurangi hak-haknya; atau membebaninya di luar kemampuannya; atau mengambil sesuatu daripadanya tanpa keridlaannya. Maka aku akan menjadi penentangnya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Baihaqi, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah 1 / 807).

Demikianlah sebagian hukum dalam syari’at Islam . Di antara hikmah dari hukum ini adalah memberi kesempatan kepada rakyat non Islam untuk menjalankan agamanya sambil melihat kesempurnaan syariat Islam sehingga suatu saat mereka akan masuk Islam tanpa paksaan. Namun, hal ini bukan berarti bahwa hukum Islam menganggap bolehnya kebebasan beragama karena kaum muslimin telah diperintahkan untuk bersikap benci kepada orang yang menentang Allah, sehingga hukum Islam tetap tidak dapat disatukan dengan konsep hak asasi manusia yang telah diakui dunia sekarang ini.

Kesimpulan dan Penutup

Masih banyak lagi gesekan-gesekan yang terjadi antara pemikiran HAM dengan hukum-hukum Islam, misalkan seperti masalah pembagian harta waris menurut hukum Islam yang dinilai tidak adil dalam kacamata HAM karena seorang wanita mendapat separuh jatah dari bagian laki-laki, pembolehan banyaknya aliran-aliran sesat agama seperti Ahmadiyah dan semisalnya dengan atas nama kebebasan beragama, pembolehan atas nama hak asasi manusia untuk orang yang berzina jika didasari suka sama suka, atau seorang wanita yang mendedahkan aurat, tampil dengan penuh percaya diri di media-media iklan, namun ketika sekelompok masyarakat menggugat, maka sanggahannya pun bertameng dengan kebebasan berekspresi dan seni, yang juga termasuk bagian dari hak asasi manusia. Namun, saya cukupkan pembahasan saya mengenai HAM dipandang dari syari’at Islam ini pada masalah kebebasan beragama saja, yang menyangkut di dalamnya berhubungan dengan dasar-dasar hukum Islam yakni akidah. Hal ini dikarenakan selain adanya keterbatasan pengetahuan saya lebih lanjut dalam masalah-masalah lain dan agar tulisan ini tidak terlalu panjang, masalah akidah ini adalah masalah paling krusial yang harus dikuasai oleh setiap muslim, sehingga diharapkan bagi warga negara Indonesia yang mayoritasnya beragama muslim terjaga akidahnya dan tidak tertipu dengan kerancuan-kerancuan HAM ini yang telah dibungkus rapi dengan muka kebaikan ternyata isinya banyak bertentangan dengan ajaran agama Islam yang diyakini oleh mayoritas warga negara Indonesia. Oleh karena itu, pembahasan HAM ini mungkin lebih bersifat subjektif menurut Islam sendiri dan tidak dilihat dari sisi ajaran lain. Saya tetap membahas dengan satu pandangan saja, dikarenakan kebanyakan warga Indonesia beragama muslim jadi sekiranya pembahasan ini lebih bermanfaat jika juga dapat dijadikan sebagai bekal ilmu agama dan menambah keimanan bagi kaum muslimin. Jika warga negara Indonesia muslim telah seluruhnya menguasai ajaran agamanya, tentunya akan memberikan pengaruh positif yang besar bagi negara ini, dan bagi warga negara non-muslim pun juga akan mendapatkan pengaruh positif tersebut, sebagaimana dulu orang-orang non-muslim yang tinggal satu negeri bersama nabi Muhammad, mereka merasa aman dan tidak dizalimi.

Konsep HAM versi barat bersifat antroposentris, sehingga ukuran pokok kebenaran suatu perbuatan hanya didasari oleh hati nurani seseorang, atau juga dipandang dari apakah perbuatan tersebut merugikan orang lain atau tidak. Sedangkan hukum Islam lebih bersifat theosentris, yakni segala perbuatan didasari dengan wahyu Allah yang terkandung dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah, sebagai al-bayan (penjelasan) dan al-furqon (pembeda yang benar dan salah) bagi manusia. Maka, bisa saja suatu perbuatan walaupun tidak dianggap suatu kejelekan bagi hati nurani manusia, atau perbuatan tersebut tidak mengandung unsur merugikan bagi orang lain, ternyata perbuatan tersebut diharamkan bagi Islam. Dan sebaliknya, bisa saja suatu perbuatan tidak dianggap baik oleh mayoritas manusia akan tetapi hukum Islam membolehkannya. Sebagai contoh, telah dikenal bahwa hukum di antara hukum-hukum Islam menjelaskan diwajibkannya jihad fii sabilillah dengan cara berperang, padahal secara tabiat manusia, berperang adalah sesuatu yang dibenci, sebagaimana perkataan Allah :

”Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah : 216)

Kemudian, jika kaum muslimin memperoleh kemenangan dalam peperangannya, terdapat hukum yang menjelaskan disyari’atkannya untuk melakukan pembagian harta rampasan perang, termasuk di dalamnya pembagian jatah budak yang berasal orang-orang sipil tawanan perang. Jika budak tersebut adalah wanita, maka pemiliknya dihalalkan untuk mencampurinya, sebagaimana firman Allah :

”Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (Q.S : Al-Mu’minun : 6)

Walaupun memang orang yang membebaskan budak akan mendapat pahala dalam Islam, hukum perbudakan (dari hasil kemenangan perang) ini tidak hanya berlaku ketika zaman rasulullah dan sahabatnya berperang saja, namun berlaku sepanjang zaman hingga hari kiamat. Namun, sebagian besar orang, bahkan dari kaum muslimin sendiri, menafikan hukum ini dan menentang adanya perbudakan. Mereka menganggap bahwa perbudakan telah dihapus dan tidak ada lagi yang namanya perbudakan, karena perbudakan ini dianggap tidak manusiawi. Apakah yang dimaksud perbuatan manusiawi? Jika yang mereka maksud adalah perbuatan yang sesuai dengan hati nurani manusia, tentunya ukuran ’manusiawi’ ini akan menjadi rancu, karena kemurnian hati nurani manusia berbeda-beda, ada yang masih bersih dan ada yang sudah kotor. Bagaimana jika yang dimaksud ’berdasarkan hati nurani’ ini adalah bukan anggapan individu, melainkan anggapan kebanyakan manusia? Ini pun juga dapat menimbulkan kerancuan, karena kebanyakan manusia berada dalam kesesatan, berdasarkan ayat Al-Qur’an :

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (Q.S Al-An’am : 116)

Maka, jika ukuran manusiawi suatu perbuatan didasari oleh mayoritas manusia yang hati nuraninya kebanyakan telah kotor, yang terjadi adalah kebenaran akan dianggap sebagai kebatilan, sebaliknya kebatilan akan dianggap sebagai suatu hal yang biasa dan manusiawi. Hal ini benar-benar terjadi di zaman ini, kita lihat kabar-kabar di mancanegara, beberapa negara telah membuat undang-undang untuk melindungi kaum homoseksual atas nama perlindungan HAM, karena kaum homo di sana sudah mulai menjadi kaum mayoritas sehingga perbuatan homoseksual dianggap sebagai hal yang ’manusiawi’. Di Indonesia sendiri pun juga sudah ada kaum homo yang mulai berdemonstrasi di beberapa daerah memperjuangkan aspirasinya agar dilindungi dan tidak dikucilkan dari masyarakat. Perbuatan-perbuatan lain yang dianggap aneh oleh masyarakat namun dibolehkan Islam juga banyak terjadi di Indonesia walaupun mayoritas penduduknya muslim, seperti penganggapan aneh/sinis kepada orang yang berpoligami, penganggapan aneh bahkan pelarangan bagi orang yang berjenggot panjang atau berjilbab bagi wanita yang bekerja di suatu perusahaan, dan lain-lain.

Sebagai penutup, saya mencoba memberikan solusi bagi kerancuan permasalahan HAM saat ini, yakni janganlah kaum muslimin di Indonesia memahami hak-hak dasar manusia berdasarkan ajaran barat, akan tetapi dari ajaran Islam yg murni. Memang, di era globalisasi ini, orang yang akan berpegang teguh dengan agama Islam ini akan mengalami cobaan yang sangat berat. Banyak mayoritas orang telah menganggap bahwa hukum-hukum Islam perlu direvisi ulang agar sesuai dengan perkembangan zaman, bukan perkembangan zaman harus disesuaikan dengan hukum Islam, atau juga bagi yang berpegang kuat dengan agama ini akan ditempeli banyak gelar negatif oleh banyak orang, seperti ’ekstrim’, ’kolot’, ’tidak sesuai dengan perkembangan barat’, dan semisalnya. Memang, telah dikabarkan oleh Rasulullah, memegang sunnah pada akhir zaman akan terasa sangat sulit seperti memegang bara api karena orang tersebut akan terlihat aneh mengingat banyaknya manusia telah meremehkan agama. Dan juga beliau juga mengabarkan bahwa Islam akan mulai dengan keterasingan dan berakhir dengan keterasingan pula, berdasarkan sabda-sabda beliau :

”Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari dimana orang yang sabar ketika itu seperti memegang bara api. Mereka yang mengamalkan sunnah pada hari itu akan mendapatkan pahala lima puluh kali dari kalian yang mengamalkan amalan tersebut. Para Shahabat bertanya: “Mendapatkan pahala lima puluh kali dari kita atau dari mereka?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab: “Bahkan lima puluh kali pahala dari kalian”. (HR. Tirmidzi)“Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula.Maka berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba’).” (H.R Muslim)

“Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba’). (Mereka adalah) orang-orang shalih yang berada di tengah orang-orang yang berperangai buruk.Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada yang mengikuti mereka”(H.R Ahmad)

Tapi hal ini tidaklah mengapa dan bukan penghalang yang sulit bagi orang yang benar-benar bertaqwa, karena Allah yang Maha Mengetahui hal-hal yang terjadi di masa depan akan memberikan pahala yang berlipat bagi yang berpegang teguh dengan Islam, dan Islam juga telah menjelaskan bahwa berpegang dengan ajaran rasulullah merupakan kewajiban bagi umat Islam dan solusi memecahkan berbagai permasalahan yang ada di akhir zaman, sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah :
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S Al-Baqarah : 206)

Dari Al-’Irbadh bin Sariyah –radhiyallahu ’anhu- ia berkata : ”Rasulullah –shollallahu ’alaihi wasallam- memberikan sebuah nasihat kepada kami dengan nasihat yang mengena, hati menjadi gemetar dan mata pun berlinang air mata karenanya, maka kami katakan : ’Wahai Rasulullah, seolah-olah ini nasihat perpisahan maka berikan wasiat kepada kami’, lalu beliau katakan : ’Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia akan melihat perbedaan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin, gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru karena sesungguhnya semua bid’ah (perkara baru dalam agama) itu sesat.” (HR. Ahmad, disahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no, 2549 )

Demikian Nabi mewasiatkan kepada para sahabat beberapa wasiat penting. Di antaranya adalah perintah untuk berpegang teguh dengan sunnahnya dan sunnah Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin. Bahkan beliau menyuruh untuk menggigitnya dengan gigi kita yang paling kuat. Di masa sahabat saja Rasulullah telah berwasiat demikian. Lebih-lebih di zaman sepeninggal beliau di mana kondisi masyarakat dari sisi keagamaan semakin buruk.

Dan Allah juga telah menjanjikan kejayaan bagi kaum yang berpegang teguh dengan Islam, dalam firman-Nya :”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S An-Nur : 55)

Allah adalah Sang Maha Menepati janji. Maka, jika melihat kondisi kaum muslimin yang terpuruk saat ini, jangan salahkan Allah karena belum menepati janji-Nya, namun salahkan kita, karena janji Allah tersebut belum terpenuhi syaratnya, yakni masih banyak kaum muslimin belum yang belum mempelajari dan mengamalkan agama ini secara menyeluruh.

Dan untuk berpegang teguh dengan Islam, tentunya kaum muslimin harus mempelajari dan memahami ilmu-ilmu agama yang sangat luas, sehingga menuntut ilmu agama hukumnya wajib bagi seluruh kaum muslimin. Kemudian, orang-orang yang telah meluruskan niatnya untuk mempelajari ilmu agama ini pun juga harus mengambil ilmu dari orang yang terpercaya dan berhati-hati agar tidak ekstrim dalam beragama, disebabkan mereka mengambil ilmu dari orang-orang yang tidak berpemahaman Islam seperti pemahaman salafush saleh (orang-orang Islam terdahulu), yakni pemahaman seperti rasulullah sendiri, sahabat, dan golongan setelahnya. Maka, bagi penuntut ilmu wajib mengetahui keadaan gurunya, apakah ia berpemahaman salaf atau tidak, mengingat sekarang banyak kaum muslimin telah meninggalkan pemahaman salaf ini, karena menganggap pemahaman Islam dulu harus direvisi untuk menyesuaikan keadaan zaman sekarang, padahal para salafus shalih dan para pengikut pemahamannya ini telah dipuji oleh Allah yang Maha mengetahui segala perkembangan zaman, dalam firman-Nya :

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (Q.S At-Taubah : 100)

Bagaimana dengan warga non-Islam? Saya rasa jika mayoritas warga negara Indonesia yang beragama Islam telah melaksanakan ajaran Islam secara benar, janji Allah berupa kejayaan akan datang dan warga non-Islam pun akan merasakan pengaruh positifnya pula, karena pada dasarnya Islam adalah pembawa rahmat bagi seluruh alam, termasuk kehidupan orang non-muslim di dunia. Hal ini telah terbukti di zaman nabi Muhammad dahulu, ketika kaum muslimin telah beragama secara benar dan menyeluruh, mereka mendapat kejayaan dan ditinggikan derajatnya oleh Allah, dan kaum non-islam yang tinggal bersama nabi –shollallahu ‘alaihi wassallam- pun juga merasakan amannya tinggal di negeri yang kaum musliminnya telah beragama secara benar. Wallahu a’lam bish-shawab, semoga Allah selalu memberikan taufiq dan hidayah bagi kita semua.

REFERENSI

Al-Qur’an Al-Karim.
Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz. 2006. Bantahan terhadap orang yang menganggap bahwa hukum-hukum syari’at Islam tidak sesuai lagi dengan keadaan/perkembangan jaman sekarang. http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=314
Abu Hamzah Yusuf. 2005. Membongkar pemikiran sang begawan teroris (I). http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=878
As-Sewed, Muhammad Umar. 2003. Islam Sebagai Rahmat Untuk Seluruh Alam. http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=54
As-Sewed, Muhammad Umar. 2004. Kaidah penerapan Sunnah : Tegakkan Sunnah setiap masa. http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=740
Elviandri. 2005. Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Islam : Kajian Konsep dan Historisitas. http://eprints.ums.ac.id/280/
Kelsay, John dan Summer B. Twiss. Agama dan Hak Asasi Manusia.
Prasetyo, Teguh (2007) HAK ASASI MANUSIA DALAM TRADISI ISLAM. Jurnal Ilmu Hukum, Vol.10 (No.1). pp. 46-54. ISSN 1410-7880
Suaidi, Qomar. 2003. Menghidupkan Sunnah yang Kian Terasing. Yogyakarta : Oase Media.
Syafruddin, Abulfaruq Ayip. 2008. Apa itu Hak Asasi Manusia (HAM) ? (majalah Asy-Syari’ah no.42/IV/1429H/2008) . Yogyakarta : Oase Media.
Syafruddin, Abulfaruq Ayip. 2008. Atas Nama Kebebasan. Yogyakarta : Oase Media.
Syafruddin, Abulfaruq Ayip. 2008. Kampanye Memalingkan Umat dari Islam. Yogyakarta : Oase Media.
Yusup, Deni K. 2008. Hukum Islam dan HAM. http://dkyusup.blogspot.com/2008/04/hukum-islam-dan-hak-azasi-manusia.html

(dibuat sebagai tugas akhir mata kuliah Pancasila, 19 Januari 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: